Sinobi Kurawa. Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts

SA’ID HAWWA

Said Hawwa adalah sosok ulama yang cukup vokal dalam menyuarakan kebenaran (al-Islam). Ulama yang hidup di Mesir ini telah banyak menghasilkan tulisan-tulisan keislaman yang sangat berkualitas dan dibutuhkan ummat. Pemikiran-pemikirannya senantiasa merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, pemikiran-pemikirannya tidak lepas dari kontroversi dan kritikan (protes) dari mereka yang merasa berat untuk melaksanakan Islam secara total (kaffah) sebagaimana yang selalu ’diteriakkan’ oleh beliau.

Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya. Dari semenjak Nabi Adam hingga risalah Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah. Islam inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk dipeluk umat Islam sehingga urusan mereka menjadi baik, di dunia dan di akherat. Disini dipaparkan bahwa:

1. Islam adalah akidah yang tercerminkan dengan dua syahadat dan rukun-rukun iman
2. Islam adalah ibadah yang tercerminakan dengan shalat, zakat, puasa dan haji.

Kedua hal di atas merpakan rukun-rukun islam yang menjadi pondasi

3. Ada bangunan Islam yang berdiri di atas rukun-rukun ini. Yang tercerminkan dengan manhaj kehidupan dalam islam, yaitu manhaj politik, ekonomi, militter, akhlak, social, pendidikan dan seterusnya.
4. Islam mempunyai dukungan-dukungan yang merupakan jalan berdirinya yang tercerminkan dalam jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan dukungan-dukungan ini selain dukungan rabbaniyah yang tercerminkan dalam sanksi fitrah, sanksi ilahi di dunia dan tercerminkan dalam syurga dan neraka di akhirat.

Antitesis Islam adalah kejahiliyahan. Tak ada sesuatupun bagian dari islam yang tidak memiliki antitesis. Hal itu merupakan jejak dari keterbatasan ilmu manusia, yang dikuasai hawa nafsu dan syahwatnya, sehingga ia melihat sesuatu ayng indah menjadi buruk dan yang buruk menjadi indah.

Islam adalah kesempurnaan secara total, sedangkan kejahiliyahan adalah kekurangan secara total.

Selama ia berakidah dengan seluruh islam, berarti dia muslim, selama ia mengikuti perbuatan buruk dengan tobat, maka ia akan mengarah kepada kebaikan. Sedangkan jika seseorang terus menjaslankan keburukan , maka ia kan menjadi orang fasik, namun ia tetap muslim. Seharusnya seorang muslim meninggalkan akhlak jahiliyah secara keseluruhan dan berperilaku dengan islam secara keseluruhan. Hal ini agar umat islam menjadi penampilan yang sempurna bagi system islami dan berusaha mengenyahkan system jahiliyah di dunia. Bukannya islam yang menjadi penyerang dan penghancur system jahiliyah, malah sebaliknya Islamlah yang menjadi yang diserang dan berusaha dilenyapkan oleh system jahiliyah. Alangkah banyaknya penyebar ajaran jahiliyah di tanah islma ini dan banyak juga kaum muslimin yang memenuhi ajakan itu, baik gerakan misionaris, komunis, filsafat liberalis, partai-partai politiknon islami, menjadi kaki tangan orang kafir dengan nama kemajuan dan memerangi kemunduran dan slogan-slogan semacam itu.

Keberhasilan mereka dibantu oleh kebodohan kaum muslimin dan berpindahnya kekuasaan politik kepada penjajah, pada pertama kali , kemudian ke tangan orang yang memberikan loyalitas pemikiran atau politik atau keduanya kepada para penjajah itu. Oleh akrena itu jadilah peperangan jahiliyah yang terprogram yang menggunakan perangkat propaganda yang canggih sehingga islam menjadi agama yang asing.

Dalam buku Al-Islam dituliskan secra lengkap lima bab berikut:

1. Rukun-rukun Islam
2. Sistem ( Manhaj ) social dan akhlak Islam
3. Negara, Unsur-unsurnya, politiknya dan perangkatnya
4. Kebijakan –kebijakan umum
5. Faktor penguat Islam

Dengan membaca buku ini, seorang mukallaf bias mengetahui bagaimana seorang individu muslim yang benar-benar muslim dan mengetahui bagaimana membuat perilakunya dalam kehidupan selurhnya menjadi islami. Ia mengetahui konsekuaensi perilaku ini, tahu penyimpangan yang diakibatnya dan setelah itu mengetahui beban hokum yang dibebankan oleh Allah SWT kepada hamba-hambaNya.

SEBAGAI TAMBAHAN…
Dalam bukunya yang berjudul “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”, Sa’id Hawwa mengungkapkan ketentuan-ketentuan dalam Islam yang bersifat badihi (prinsipil), yaitu merupakan ketentuan yang sudah jelas nash-nya dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Dan semua ummat Islam wajib menerima ketentuan atau konsepsi dalam Islam yang bersifat badihi tersebut. Menurut Sa’id Hawwa, ada sepuluh ketentuan yang bersifat badihi (prinsipil). Berikut ini ke-sepuluh prinsip tersebut yang diringkas dari buku “10 Aksioma tentang Islam” – terjemahan dari buku “Min Ajli Khuthwatin ila al-Amam’ala Thariqi al-Jihad al-Mubarak”.

Prinsip Pertama
Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang dibebankan pada seluruh ummat manusia, di barat atau di timur, di utara atau di selatan, berkulit kuning, merah, putih atau hitam. Allah swt telah mengumumkan bahwa Dia tidak akan menerima sistem hidup (ad-Dien) selain Islam dengan firman-Nya:
”Sesungguhnya dien (sistem hidup) yang diridhai di sisi Allah ialah Islam.”(Qs.Ali Imran:19)

“Barangsiapa yang mencari dien (sistem hidup) selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (dien itu) darinya.” (Qs.Ali Imran:85)

Yang dimaksud dengan Islam adalah risalah yang diturunkan Allah swt melalui Nabi Muhammad saw. Risalah ini merupakan penutup seluruh risalah Allah swt, dan demikian risalah atau agama yang diturunkan Allah sebelumnya melalui para Nabi-Nya yang terdahulu tidak berlaku lagi. Karena itu seluruh manusia diwajibkan untuk memeluk Islam sampai Hari Kiamat. Barangsiapa yang tidak mengimani Islam, sedangkan seruan Islam telah sampai kepadanya, maka ia dianggap sebagai ahli neraka.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak mendengar seseorang tentangku dari ummat ini, apakah ia Yahudi atau Nasrani, kemudian ia tidak beriman dengan apa yang diutus kepadaku melainkan ia akan tergolong dari ahli neraka.” (HR.Muslim)

Prinsip Kedua
Islam adalah satu-satunya jawaban yang benar dan bersih terhadap semua persoalan manusia. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi keyakinan, ibadat, syari’at dan syi’ar-syi’ar. Islam merupakan neraca dan satu-satunya tolok ukur untuk semua sisi kehidupan manusia. Dari Islamlah terefleksinya petunjuk yang benar dan lurus serta selamat dalam segala hal.
“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (Qs.an-Nahl:89)

Al-Qur’an menerangkan segala persoalan, apakah melalui nash-nashnya atau melalui kesimpulan-kesimpulan yang tepat tentang nash-nash tersebut berdasarkan hadits, qiyas, ijma’ ulama, istihsan, istishab, istislah, ’urf, hukum-hukum yang diakui oleh akal, syara’ atau hukum adat menurut batas-batas yang dibenarkan oleh nash tersebut.

Prinsip Ketiga
Bila seseorang masuk Islam, berarti ia telah menyerah secara mutlak kepada Allah swt dalam semua persoalan yang mencakup semua aspek kehidupan, termasuk yang berhubungan dengan jiwa, akal, hati, ruh, perasaan, emosi, perbuatan, pemikiran, kepercayaan dan peribadatan. Termasuk dalam hal konstitusi dan undang-undang kehakiman. Di samping itu Islam berarti penolakan total terhadap seluruh bentuk penyekutuan dengan selain Allah. Allah swt berfirman:
“….Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus….” (Qs.al-Baqarah:256)

Prinsip Keempat
Dalam Islam pemikiran eksperimental merupakan salah satu fenomena proses pembentukan pribadi Muslim atau karakteristik Islam. Oleh karena itu segala sesuatu yang telah dicapai oleh akal yang sehat dan melalui proses percobaan adalah sesuatu yang dapat diterima dari sudut pandangan Islam dan diberi jaminan kepercayaan terhadap kesahannya. Rasulullah pernah bersabda:
“Hikmah (ilmu pengetahuan) itu merupakan hak orang Mu’min. Maka di mana saja ia jumpai, ia lebih berhak terhadapnya.”

Namun jika pemikiran-pemikiran eksperimental itu sudah tidak murni lagi, telah diwarnai oleh sistem hidup yang tidak Islami, maka kita berkewajiban untuk membersihkannya terlebih dahulu, dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam yang bersih, sebelum kita menggunakannya.

Prinsip Kelima
Islam adalah satu sistem yang sempurna dan lengkap, karena ia mencakup seluruh sistem politik, sosial, ekonomi dan moral. Oleh karena itu mengabaikan atau melupakan sebagian dari sistem Islam berarti menghalangi perjalanan seluruh sistem itu sendiri. Begitu juga menegakkan politik yang tidak berdasarkan pada pilar-pilar Islam merupakan satu kendala dan sekaligus tantangan terhadap Islam.

Seluruh sektor kehidupan kaum Muslimin harus selalu berlandaskan pada nilai-nilai dan syari’at Islam, ekonominya, politiknya, sosialnya, pendidikannya, militernya dan sektor-sektor lainnya. Tidak dibenarkan melaksanakan Islam secara parsial (tentunya selama kondisi dan kemampuan memungkinkannya).

“Apakah patut kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi yang berbuat demikian dari kamu, kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka akan dikembalikan kepada siksa yang amat berat. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu perbuat.” (Qs.al-Baqarah:85)

“Barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (Qs.al-Maidah:44)

Prinsip Keenam
Seluruh kaum Muslimin dibebani kewajiban menegakkan kalimatullah agar Islam menjadi satu-satunya Dien yang tegak di bumi ini. Allah berfirman:
“Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah dan kalimatullah itulah yang tinggi.” (Qs.at-Taubah:40)

“Barangsiapa yang berperang untuk menjadikan kalimatullah yang tertinggi sekali, maka ia berjuang di jalan Allah.” (al-Hadits)

Salah satu tujuan Allah mengutus Rasul-Nya adalah agar Islam sebagai dienullah menang terhadap dien-dien (sistem hidup) lainnya. Karena itu semua pengikut Muhammad berkewajiban untuk mewujudkan kemenangan Islam dengan berjihad di jalan-Nya.
“Dia-lah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dien yang haq, agar dimenangkan-Nya terhadap semua dien. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Qs.al-Fath:28)*
“Orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Qs.at-Taubah:20)*

Prinsip Ketujuh
Kaum Muslimin dalam satu negara, bahkan di seluruh dunia harus merupakan satu sekutu, satu blok dan satu jama’ah. Sekutu ini adalah sekutu iman dan politik. Apa pun bentuknya yang memisahkan dan mengesampingkan hal ini adalah satu kekufuran dan kesesatan yang amat besar. Sekutu dan blok tersebut harus mempunyai imam tersendiri.

Kepemimpinan dan persatuan bagi ummat Islam sangat penting sekali. Para sahabat Rasulullah saw telah mendahulukan pemilihan khalifah ketimbang mengubur jenazah Rasulullah saw. Dalam satu kesempatan Rasulullah saw bersabda:
“Tidak boleh bagi tiga orang berada di manapun di bumi ini, kecuali memilih salah satu seorang di antara mereka itu sebagai pemimpin.”(Musnad Imam Ahmad, jilid II, hal.177)*

Mu’min dengan mu’min lainnya itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasa sakit. Demikian Rasulullah pernah mengingatkan ummatnya.

Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imamah, tidak ada imamah tanpa ketaatan, dan tidak ada ketaatan tanpa bai’at. Barangsiapa yang keluar dari jama’ah maka ia telah keluar dari Islam.”*

Prinsip Kedelapan
Dalam kondisi kekuasaan politik Islam dan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia sedang mengalami kehancuran dan kelumpuhan seperti sekarang, maka merupakan kewajiban bagi setiap Muslim untuk cepat-cepat melantik seorang imam yang akan memimpin perjuangan, atau untuk mempersiapkan diri menghadapi peperangan, atau melakukan persiapan yang matang untuk memilih seorang yang akan memimpin mereka. Hal ini merupakan salah satu masalah yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (Qs.al-Anfaal:60)

Dalam memperjuangkan kebenaran (al-Islam) diperlukan kesungguhan, sumber daya manusia dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, sarana dan prasarana serta pengorganisasian yang rapi. Sayyidina Ali ra pernah mengatakan, “Kejahatan yang terorganisir dapat megalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.” Agar perjuangan dapat terorganisir maka diperlukan kepemimpinan, yang manhaj kepemimpinannya berpegang kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Qs.ash-Shaff:4)

Prinsip Kesembilan
Menyertai dan bergabung dengan jama’ah Islam dan imamnya adalah suatu kewajiban besar di dalam Islam. Kewajiban ini secara langsung tidak memberikan peluang untuk mengelakkan diri dari keterlibatannya dengan jama’ah dan imamnya, kecuali dalam kondisi dimana orang-orang Islam tidak mempunyai jama’ah dan imamnya. Maka dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim harus memisahkan diri dari perkumpulan sesat dan tetap berpegang kepada yang haq.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta Abu Daud, dari Hudzaifah al-Yamani, diriwayatkan sebagai berikut:
Orang-orang yang bertanya pada Rasulullah saw tentang kebaikan, tetapi saya bertanya tentang kejahatan, sebab saya takut akan terlibat dengannya. Saya bertanya: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam masa Jahiliyah dan diliputi oleh suasana kejahatan, lalu Allah mendatangkan pada kita kebaikan ini, maka apakah sesudah kebaikan itu akan ada kejahatan?”
“Ada,” jawab Rasulullah.
“Apakah sesudah kejahatan itu akan ada kebaikan?” Saya bertanya lagi.
Rasulullah menjawab, “Yaitu segolongan ummat yang mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu, dan cegahlah.”
Saya bertanya lagi, “Kemudian setelah kebaikan tersebut masih adakah kejahatan lagi?”
Rasulullah menjawab, “Masih, yaitu para penda’wah yang menyeru manusia ke pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, niscaya mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.”
Lalu saya bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang harus saya lakukan jika saya menghadapi keadaan yang demikian itu?”
Jawab Rasulullah, “Hendaklah kamu teguh pendirian dengan jama’ah Islamiah dan imamahnya.”
“Bagaimana kalau sudah tidak ada lagi jama’ah Islamiah dan imamahnya?” Saya terus bertanya.
Rasulullah menjawab, “Tinggalkan golongan-golongan itu semua, walaupun kamu akan menggigit sebatang pohon kayu, sampai kamu mati dalam keadaan demikian.”

Persoalannya sekarang, apakah bumi yang kita diami ini telah kehilangan jama’ah dan imamnya, sedang Rasulullah saw bersabda:
“Akan selalu ada di kalangan ummatku, satu golongan yang mendukung kebenaran, golongan yang selalu menentang dan membelakangi mereka tidak akan memberikan kemudharatan apa-apa kepada mereka sehingga Hari Kiamat. ”

Imam Ali ra mengatakan, “Tidak akan sunyi bumi ini dari seorang pemimpin yang berdiri untuk Allah dengan hujjah-hujjahnya.”

Prinsip Kesepuluh
Ummat Islam, sebenarnya merupakan satu jama’ah atau satu partai, dan maju mundurnya jama’ah ini tergantung pada pencapaian ilmu, karakteristik, dan komitmen ummat terhadap Islam. Oleh karena itu segenap kaum Muslimin harus terikat pada rencana atau program yang telah disusun. Dan rencana atau program yang disusun secara spontanitas pun harus tunduk kepada kaidah-kaidah yang ketat, dan tidak boleh membelakangi ke arah tercapainya tujuan.

Karakteristik ummat Islam dan jama’ahnya adalah sesuai dengan ayat 36-43 surat Asy-Syura. Karakteristik ummat Islam ialah beriman, bertawakkal, menjauhkan diri dari dosa-dosa kecil maupun besar dan perbuatan keji, mengontrol diri dari marah, menyambut seruan Allah dalam semua hal, mendirikan shalat, berinfaq di jalan Allah dan berlaku adil sesama manusia. Sedangkan ciri-ciri khusus dari jama’ah Islamiah ialah adanya syura dan selalu menentang kezaliman.

Penutup
Kekalahan, keterbelakangan, penindasan dan yang dialami ummat Islam sekarang ini disebabkan adanya perselisihan dan perpecahan yang menimpa ummat Islam dewasa ini. Perpecahan dan perselisihan ummat Islam sekarang ini persoalannya bukanlah terletak pada perlunya pembersihan jiwa dan hati, luwes dan sikap berhati-hati di dalam gerakan, tentang perlunya sikap berlindung, atau perlunya semangat jihad. Ia juga bukan karena perbedaan tentang perlunya penguasaan terhadap seluruh medan perjuangan, juga bukan karena perbedaan perlunya suasana terbuka yang menjamin keamanan da’wah Islamiah. Dan bukan pula karena perbedaan tentang persoalan-persoalan yang dapat memberikan pelayanan kepada orang Islam. Tetapi sumber segala perselisihan dan perpecahan di antara kita ialah karena adanya perbedaan pandangan terhadap persoalan-persoalan dalam Islam yang bersifat prinsipil (badihi). Sehingga banyak dari kalangan ummat Islam sendiri yang melupakan dan mengabaikan prinsip (pokok) dalam Islam.


RESUME BUKU
AL-ISLAM
SA’ID HAWWA
Gema Insani, Jakarta.2004

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pergerakan Pemuda Islam Pengemban Peradaban

Oleh : Zuhri Multazam

Kepemimpinan dunia yang dipimpin oleh peradaban barat hari ini telah mulai mengalami kebangkrutan yang luar biasa. Peradabannya mulai roboh, undang-undang dan nilai-nilai dasarnya pun mulai hancur. Dominasi politiknya telah binasa oleh kediktatoran, tonggak perekonomiannya diguncang oleh krisis yang tiada henti, sedangkan berjuta-juta orang menderita. Pengangguran dan kelaparan turut menjadi saksi atas keruntuhan peradaban ini. Umat manusia sekarang ini berada di tepi jurang kehancuran. Keadaan ini bukanlah berasal dari ancaman maut yang sedang tergantung di atas kepalanya. Sebenarnya puncak dari kebangkrutan ini ialah: bangkrut dan menyimpangnya umat manusia di bidang “nilai” yang menjadi pelindung dan panduan hidupnya.
Demikianlah kurang lebih keadaan barat sekarang yang dipahami oleh Syaikh Hasan Albanna dalam risalah-risalahnya dan oleh Sayyid Qutb dalam mukaddimah buku ma’alim fi at thariqnya. Tentu wacana ini mereka sampaikan berdasarkan data empiris yang ada dan setelah melalui perenungan yang mendalam terhadap agamanya –al islam- dan tentunya ini adalah karena anugerah Allah swt yang diberikan kepadanya. Dia telah memberikan pemahaman yang kokoh betapa kesempurnaan system dan prinsip islam yang luar biasa tiada tertandingi dengan sistem ideologi selainnya. Namun betapa sangat menyedihkan agama islam yang mulia dan sempurna ini dipandang sebelah mata eksistensinya dalam kancah dunia dan islam justru ditinggalkan. Meskipun demikian islam hari ini –walau dengan tertatih- telah mulai bangkit dan mulai bangun dari tidur panjangnya. Mulai menunjukkan siapa dirinya sebenarnya dan meyakinkan pada dunia bahwa islam adalah solusi dan memiliki obat penawar dari seluruh penyakit yang menimpa umat manusia sekarang ini. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam
Oleh sebab itu, maka kepemimpinan peradaban umat manusia mestilah diberikan kepada pimpinan baru! Dan sekarang tibalah saat bagi islam dan umatnya pada waktu yang paling genting seperti keadaan sekarang ini dengan segenap upaya harus tampil mengambil peran sebagai pemimpin peradaban baru datang demi menyelamatkan manusia dari kehancurannya menuju kehidupan yang penuh kedamaian dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karena Allah berfirman ”... dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia..” (QS 3:140). Dan adalah janji dari Allah swt. bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih, (QS, 24:55). Selain itu beberapa nubuat yang telah disampaikan oleh nabi kita Muhammad saw. bahwa kekuasaan umat islam akan sampai ke bumi yang dilalui siang dan malam. Oleh karena itu kita bersama harus yakin bahwa masa depan adalah milik islam!
Namun pergiliran peradaban yang akan kembali kepada islam itu semua tidak akan terwujud dengan sendirinya seandainya tidak diperjuangkan dengan penuh kesungguhan dan pengorbanan yang tidak sedikit serta menyiapkan seluruh sarana untuk menopang tegaknya peradaban islam yang mulia tersebut. Terkhusus bagi para pemudanya karena disanalah letak kebangkitan umat karena dipunggungnya terletak kejayaannya. Hasan Al Banna mengatakan, ” Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan ketika kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dana amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.”
Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan pilar-pilar yang harus disiapkan dan dimiliki oleh seorang pemuda untuk menyongsong kebangkitan peradaban baru tersebut, peradaban islam :
Pemuda muslim hari ini harus mengetahui posisi strategisnya dan berperan dengan baik sebagai pejuang untuk tegaknya peradaban islam.
Peran strategis pemuda muslim dalam mengemban peradaban islam ini antara lain adalah harus dengan baik dapat melakukan peran:
Menyelesaikan dengan semangat seluruh problematika umat, pemuda muslim hari ini harus mencerdaskan masyarakat, mengetahui seluruh penyakit yang melanda umat islam hari ini dari segala aspek yang melingkupinya. Sehingga dengan kontribusinya mampu menyembuhkan penyakit umat yang sedang melanda.
Sebagai generasi pengganti, yakni mereka akan menggantikan generasi yang menyimpang dari agamanya (QS, 5:54)
Generasi penerus, yang dimaksud sebagai generasi penerus di sini adalah pemuda muslim memiliki kewajiban untuk meneruskan perjuangan adat istiadat dan nilai-nilai kebaikan yang ada pada generasi pendahulunya (QS, 52:21)
Generasi pembaharu moral umat, selain sebagai generasi penerus pemuda muslim harus menjalankan peran sebagai pembangkit nilai-nilai kebaikan dan kakhlak yang belum mampu dilaksanakan oleh nenek moyangnya dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam suatu masyarakat. Sehingga moral generasi selanjutnya adalah moral yang lebih baik. Bukan justru menjadi generasi yang lemah (QS,4:9).
Unsur perbaikan, pemuda harus meyakini bahwa dalam dirinya adalah sebagai unsur perbaikan yang mutlak. artinya bahwa jika dirinya tidak baik maka mustahil kebaikan sebuah bangsa dan peradaban islam yang kita cita-citakan akan terwujud (QS,18:13-14)
Untuk menjalankan dengan baik peran tersebut maka pemuda muslim hari ini harus memiliki keresahan dan tidak diam melihat kenyataan buruk yang menimpa masyarakat di depan matanya, jiwanya hidup dan bersungguh-sungguh beramal dan menyiapkan bekal dengan serius. Sehingga mereka menjadi pejuang peradaban yang tangguh dan bukan menjadi beban bagi bangsanya. Ini mutlak dibutuhkan bagi bangsa yag akan bangkit. Seperti dikatakan Hasan Al Banna, ”Sesungguhnya setiap umat yang ingin membina dan membangun dirinya, serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita dan membela agamanya, haruslah memiliki kekuatan jiwa yang dahsyat yang terekspresikan dalam beberapa hal sebagai berikut; tekad membaja yang tak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terhalangi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan. Semua itu akan menghindarkannya dari kesalahan, penyimpangan, tawar-menawar, atau tertipu oleh ideologi lain.
Generasi muda muslim pejuang peradaban harus memiliki ke empat karakter tersebut, karena jika tidak maka cita-cita perdaban yang ingin diraihnya selamanya tidak akan terwujud dan hanya akan menjadi ilusi belaka. Pemuda muslim hari ini harus memiliki sasaran dan cita-cita bersama tentang konsep peradabannya, langkahnya serta sarana-sarananya.
Islam sebagai ideologi yang sempurna adalah satu-satunya ideologi yang akan mengantarkan seluruh manusia kepada kebahagiaan hakiki dunia dan akherat. ”dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”(QS, 21:107). Mewujudkan risalah rahmat seluruh alam ini, secara global adalah dengan menciptakan kondisi yang damai bagi manusia untuk dapat hidup secara lurus dan baik, serta hidup di akherat dengan naungan dan pahala Allah swt. ini memiliki sasaran yang harus diwujudkan :
Ibadah kepada Allah semata sesuai dengan syariatn-Nya. sehingga seluruh manusia merdeka
”Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”(QS, 51:56)
Tegaknya khilafah Allah di muka bumi
”Sesungguhnya Aku jadikan manusia sebagai khalifah di bumi” (QS,2:30)
Saling mengenal sesama manusia
”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS,49:13)
Kepemimpinan dunia
”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”(QS,24:55)
Menghukum dengan syariat-Nya
” kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”(QS, 45:18)
” Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu,...” (QS,4:105)
Sungguh betapa jauhnya realisasi perwujudan sasaran dari misi tersebut dari kenyataan hari ini. Untuk mewujudkan misi dengan sempurna, tingkatan kerja yang harus dilakukan pemuda muslim membutuhkan prioritas amal guna mewujudkannya. Tertib kerja yang menjadi tahapannya adalah :
Membentuk pribadi muslim sehingga menjadi seorang yang muslim sejati dalam pola pikir dan akidahnya, dalam moralitas dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Inilah pembentukan pribadi pemuda sebagai individu pengemban peradaban
Membentuk keluarga muslim yaitu agar terbangun rumah tangga islam dalam pola pikir dan akidahnya, dalam moralitas dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Inilah pembentukan dari keluarga pengemban peradaban
Membentuk masyarakat muslim dalam seluruh aspeknya dengan mengajak masyarakat kepada kebenaran islam. Sehingga islam menembus seluruh dinding keluarga, dan berbagai penjuru, di kota-kota dan di desa-desa. Untuk itu pemuda muslim pengemban peradaban tidak boleh bersantai-santai dan meninggalkan langkah ini.
Membebaskan tanah air islam dari setiap penguasaan asing non muslim baik aspek politik, ekonomi, maupun moral.
Perbaiki pemerintahan sehingga menjadi pemerintahan yang benar-benar islami. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat dan pekerja yang bekerja demi kebaikan mereka. pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum muslimin yang melaksanakann kewajiban-kewajiban Islam, tidak terang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam.
Mengembalikan kejayaan umat islam dan menyatukan seluruh kekuatannya. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri islam, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasan khilafah yang telah lama hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama.
Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seluruh negeri, menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, menggaungkannya ke seluruh penjuru bumi, dan menjatuhkan semua penguasa otoriter "Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka." (Al- Baqarah: 193) "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.” (QS,61:8)
Ketujuh tahapan tersebut harus tertanam kuat dan menjadi misi pada setiap pemuda muslim dan salalu diperjuangkannya. Adapun tiga point yang pertama wajib ditegakkan oleh individu pemuda muslim dimana ia berada. Sedangkan empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh kelompok dan oleh setiap pemuda muslim pengemban peradaban sebagai anggota dalam negara. Sungguh, betapa besarnya tanggung jawab ini dan betapa agungnya tujuan ini. Orang melihatnya sebagai khayalan, sedangkan seorang muslim melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa meraihnya dan –bersama Allah- kita memiliki cita-cita luhur. "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan orang tidak Mengetahuinya " (Yusuf: 21)
Untuk merealisasikannya harus disiapkan seluruh kekuatan untuk mewujudkannya. "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (Al-Anfal: 60) dan betapa indahnya ungkapan “Kekuatan adalah jalan yang paling aman untuk memunculkan kebenaran. Sungguh suatu keindahan yang sempurna bila suatu saat kekuatan bisa berjalan bersama dengan kebenaran."
Adapun peringkat pertama kekuatan yang harus disiapkan adalah kekuatan akidah dan iman, kemudian kekuatan kesatuan dan ikatan persaudaraan, lalu kekuatan fisik dan senjata. Sebuah peradaban tidak bisa dikatakan kuat sebelum memiliki cakupan dari seluruh kekuatan tersebut. Di saat sebuah jamaah / negeri mempergunakan kekuatan fisik dan senjata, sementara ia dalam kondisi sel-selnya berserakan, sistemnya kacau, akidahnya lemah, dan cahaya imannya padam, maka bisa dipastikan bahwa kesudahan akhirnya adalah kehancuran dan kebinasaan.
Selanjutnya ketiga unsur kekuatan tersebut harus secara nyata menjadi penyusun sebuah bangunan peradaban baru yang kokoh dan terukur dengan minimal harus ada 3 hal penting yang menopangnya berikut :
a. Pengenalan keunggulan system islam dan ideologinya serta penerimaan masyarakat islam dan masyarakat dunia pada umumnya, b. Banyaknya aktifis dalam mengisi seluruh perangkat yang dibutuhkan dalam sebuah bangunan peradaban sehingga seluruh kerja peradaban terpenuhi dengan SDM yang berkualitas baik
c. Soliditas internal pengusung ideologi peradaban, yang akan menjamin tetap eksisnya peradaban serta mengawal dan mencegah dari tipu daya musuh yang akan menghancurkannya..
Inilah bingkai global bagaimana seharusnya pergerakan pemuda muslim dalam menyiapkan pilar peradaban baru. Selanjutnya syaikh Hasan Al Banna dengan terus terang menegaskan :
Wahai Ikhwan, khususnya yang terlalu semangat dan tergesa-gesa!
Dengarkanlah sambutanku dari atas mimbar muktamar kalian yang besar ini. Sesungguhnya, konsep dan arah perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini ini, karena ia merupakan jalan yang paling tepat untuk sampai pada tujuan. Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada alternatif yang lain untuk sampai tujuan kecuali dengannya. Sesungguhnya, kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan, dan kontinyuitas amal. Barangsiapa yang menginginkan memetik buah sebelum matangnya, atau memetik bunga sebelum wktunyanya, maka saya tidak mendukungnya sedikit pun. Lebih baik dia hengkang dari jaringan dakwah ini dan bergabung dengan yang lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai tiba waktunya buah itu untuk di petik, sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali melenyapkan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, bisa jadi berwujud sebuah kemenangan dan kemuliaan atau anugerah mati syahid dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Pemuda muslim harus selalu berjuang dengan bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita peradabannya Di atas adalah mimpi besar dan cita-cita agung yang sangat membutuhkan keseriusan dan kerja keras untuk mewujudkannya. untuk mewujudkan cita-cita peradaban itu, pemuda muslim harus berjuang dan beramal nyata, keluar dari medan kata-kata menuju medan amal, dari medan penentuan strategi dan konsep menuju medan penerapan dan realisasi. Telah sekian lama kita menghabiskan waktu dengan hanya sebagai tukang pidato dan ahli bicara, sementara zaman telah menuntut kita untuk segera mempersembahkan bahkan amal-amal nyata yang profesional dan produktif. Dunia kini tengah berlomba untuk membangun unsur-unsur kekuatan dan mematangkan persiapan, sementara kita masih berada di dunia kata-kata dari mimpi-mimpi, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS,61:2-3)
Camkanlah dalam-dalam di hati kalian bahwa, Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS, 13:11)
”Kita tidak lebih lemah dari generasi sebelum kita, yang dengan perantaraan mereka Allah membuktikan kebenaran islam ini. Oleh karenanya, janganlah merasa resah dan jangan merasa lemah. Sesungguhnya Allah bersama kita.” Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Jika harapan itu kuat dalam diri kita maka dengan izin Allah kita akan mencapai banyak kebaikan. Itulah sebabnya kami tidak pernah putus asa, dan keputusasaan tidak akan pernah sanggup merasuki hati kami. Segala puji bagi Allah untuk keyakinan kami itu. Walaupun banyak orang yang pesimis, kami tetap percaya bahwa semua yang ada di sekeliling kita memberi isyarat kegembiraan. Sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat! Wallahu A’lam.
­­­­­­­­­­­­­­­­­­_____________________________________________________________
Referensi :
Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, jilid 1 & 2, Hasan Al Banna
Petunjuk jalan, Sayyid Qutb
Perangkat-perangkat tarbiyah ikhwanul muslimin, Ali Abdul Halim Mahmud Materi-materi tarbiyah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kepemimpinan Abu Bakar

PENDAHULUAN
Pemimpin memilik kedudukan yang sangat penting, kelompok, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu komunitas masyarakat, bangsa dan Negara tidak akan maju,aman dan terarah jika tdak adanya pemimpin. Maka pemimpin menjadi kunci keberhasilkan dalam suatu komunitas masyarakat. Pemimpin yang mampu member rasa aman, temtram, mampu mewujudkan keinginan rakyatnya. Maka dianggap sebagai pemimpin yang sukses. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dicintai oleh yang dipimpinnya, sehingga pikirannya selalu didukung, perintahnya selalu di ikuti dan rakyat membelanya tanpa diminta terlebih dahulu.
Figur kepemimnan yang mendekati penjelasan tersebut adalah Rasulullah beserta para sahabatnya (khulafaur Rasyidin). Abu Bakar dan Umar ibn Khattab terpili untuk menjadi kalifah setela Rasulullah merupakan anugrah terendiri, atau semacam keistimewa yang diberikan Allah kepada mereka. Karena pada dasarnya sabat rosul merupakan orang akan mewarisi dakwah islamiyah/ risalah bagi seluruh umat manusia segalisus menjadi pemimpin bagi mereka dengan keteladanan yang mereka unggulkan dan keistikomahan di dalam menjalankan syari’at-syari’at yang telah diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya, baik melalui kitabullah maupun sunnah rosulullah swa.
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana kipra atau kepemimpinan pada masa kholifahan abu baker dan umar bin khottob selama mereka menjadi pemimpin serta problematika-problematika yang mereka hadapi sekaligus kemajuan yamg telah mereka capai di dalam meraka memperjuangkan memperluas daerah kekuasaan Islam, sehingga Islam bisa jaya ketika itu.

A. Problematika dan Realitas Kepemimpinan Abu Bakar
1. Asal Usul dan Nasab Abu Bakar
Abu bakar dari kabilah taim bin Murrah bin ka’ab. Nasabnya bertemu dengan Nabi Adnan. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi quhafah, ibinya bernama Ummul Khair. Disebutkan juga, bahwa sebelum masuk Islam ia bernama Abdul ka’ab. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah di panggil Abdullah. Dan mengenai julukan Abu Bakar, ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki bgitu karena ia orang yang paling dini (bakar) masuk Islam dibandingkan dengan yang lain

2. Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah
Sejarah mengatakan bahwa, Rasulullah ketika wafat pada tahun 11 H, tidak meninggalkan wasiat orang yang akan menggatikannya. Oleh karena itu para sahib segerah bermusyawarah di suatu tempat yaitu tsaqifah bani saidah guna memili pengganti Rosulullah untuk memimpin umat islam. Dalam pertemuan itu mereka mengalami kesulitan bahkan hampir terja perpecahan di antara golongan, karena masing-masing golongan mengajukan colon pemimpimn dari golongannya sendiri-sendiri. Pihak dari ansor mencalonkan sa’ad bin Ubaidah, sedangkan pihak lain menghendaki Ali bin Abi Tholib sebagai penganti beliau. Peristiwa itu diketahui umar, kemudian ia pergi ke kediaman Nabi dan mengutus seorang untuk menemani Abu Bakar. Kemudian ia berangkat dan dalam perjalanan ia bertemu dengan Ubaidah bin Jarrah. Setibannya dibalai Bani Sa’ad, ia mendapat dua golongan besar kaum Anshar dan Muhajirin sedang bersitegang

3. Sistem Politik Islam Masa Khalifah Abu Bakar
Pergantian Abu Bakar sebagai kholifah sebagaimana dijelaskan pada peristiwa tsaqifah bani sayyidah, merupakan bukti bahwa kholifah menjadi kholifah bukan masa kehendaknya sendiri, tetapi hasil musyawarah mufakat ummat Islam. Maka mulailah beliau menjalankan kekholifahannya, baik sebagai pemimpin ummat maupun sebagai pemimipin pemerintahan
Adapun sistem politik islam pada masa Abu Bakar bersifat “sentral” jadi kekuasaan legeslatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, meskipun sedemikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Karena sistem musyawarah yang dijalankan Abu Bakar dalam pemerintahannya, itu makin memperkuat persatuan itu . Karena rasa tangung jawab yang begitu tinggi dalam diri Abu Bakar juga, maka setipap tindakan yang akan dilakukanya ia musyawarahkan terlebih dulu dan beristikhoroh kapada Allah. Jika Allah telah memberikan pilihannya maka barulah Ia bertindak.
Sedangkan kebijaksanaan politik yang dilakukan Abu bakar dalam mengembang kekekhlifahannya yaitu:
1. Mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah bin Zaid, untuk memerangi kaum Romawi sebagai realisasi dari rencana Rasulullah, ketika Beliu masih hidup. Sebenarny dikalangan para sahabat termasuk Umar bin Khottob banyak yang tidak setuju dengan kebijaksanaan kholifah ini. Alasan mereka, karena dalam negeri sendiri paada saat itu timbul gejala kemunafikaqn dan kemurtadan yang merambah untuk menghancurkan islam dari dalam. Tapi Abu bakar tetap mengirim pasukaqn usamah un tuk menyerbu Romawi, sebab menurutnya hal itu merupakan perintah Nabi SAW.
2. Timbulnya kemunafikan dan kemurtadan hal ini disebabkan adanya an-ggapan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW. Wafat, maka segala perjanjian Nabi menjadi terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua: yatiu
a. Mereka yang menganggap Nabi dan pengikutnya, termasuk didalamnya orang yang meninggalakan sholat, zakat dan kembali mmelakukan kebiasaqan jahliah.
b. Mereka membedakan antara sholat dan zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya.
3. Mengembangkan wilayah islam keluar Arab. Ini ditujukan ke Siria dan Persia. Untuk keluasan islam keseria yang dikuasai Romawi ( Kaisar heraklius). Abu Bakar menugaskan empat pangliama yatiu Ziaid Bin Abu Sufyan . ditmpatkan didamaskus, Abu ubaida di hams, Amir bin Ash di palistina, dan Surambil bn hasanah di yordan
Adapun kebijakan bidang pemerintahan yang di lakukan oleh Abu Bakar adalah:
a. Pemerintahan Berdasarkan Musyawarah
Apabila terjadi suatu perkara, Abu bakar selalu mencari hukunnya dalam kitab Allah, jika beliau tidak memperolohnya maka beliau mempelajari bagaimana rosul bertindak dalam suatu perkara. Dan jika tidak ditemukanya apa dicari, beliaupun mengumpulkan toko-tokoh terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi dam penelitian, beliaupun menjadikan sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan.
b. Amanat Baitul Mal
Para sahabat Nabi, beranggap bahwa Baitul Mal adalah amanat Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak mengijingkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran pada sesuatu darinya. Yang berlawanan dengan apa yamg telah ditetapkan oleh syari;at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan baitul mal untuk mencapai tujuan pribadi.
c. Konsep Pemerintahan
Politik dalam pemerntaha Abu Bakar telah beliau jeleskan sendiri kepada rakyat banyak dalam sebua pidatonya : “wahai manusia! Aku telah di angkat untk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukan orang yang terbak di antara kalian. Maka jikalau aku dapat berbuat dan menunaikan tugasku dengan baik, maka bantuluh aku dan ikutlah aku. Tetapi jika aku berbuat salah maka luruskanlah! Orang yang s aku pandang kuat sampai aku bisa mengambil hak kepadanya. Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat keada Allah dan Rasul Nya, maka jangan ikuti aku.
d. Kekuasaan Undang-Undang
Abu Bakar tdak pernah menempatkan diri beliau di atas undang-undang. Beliau juga tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang. Dan mereka itu dihadapkan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum Muslimn maupun non Muslim.
4. Penyelesaian Kaum Riddat dan Nabi Palsu
Khalifah Abu bakar yang begitu singkat sangat disibukan dengan peperangan. Dalam pertepuran itu tidak hanya melawan musuh-musuh Islam dari luar, tetapi dari dalam. Hal n terjadi karena ada sekelompok orang yang memancangkan panji pemberontakan terhadap Negara islam di madinah dan meninggalkan islam setelah Rosulullah wafat.
Gerakan riddah bermula menjelan Nabi Muhammad jatuh sakit. Ketika tersiar berita beliau, maka gerakan berbelok agama itu meluas di wilayah bagian tengah, timur, selatan sampai Madinah dan Makkah, tempat itu sudah di kepung ketika Abu Bakar menjadi sebagi khalifah.
Gerakan riddat itu bermula dengan kemunculan tiga tokoh yang mengaku dirinya Nabi,guna menyayangi Nabi Muhammad SAW, yaitu MusailamahThuia,Aswad Al-Insah. Para Nabi palsu tersebut pada umumnya menarik hati para orang islam dengan membebaskan prinsip-prinsip moralis dan upacara keagamaan seperti membolehkan minuman-minuman keras, berjudi. Mengurangi Sholat lima waktu menjadi tiga, puasa Rhamadan di hapus, mengubah pembayaran zakat yang wajib menjadi sukarela dan meniadakan batasan dalam perkawinan.
Gerakan Nabi palsu itu berusaha mengusai dan mempengaruhi masyarakat islam dengan menggerakkan pasukan untuk masuk ke daerah-daerah dan mereka semakin gencar melaksanakan misinya. Akan tetapi, Kholifah Abu Bakar tidak tinggal diam, beliau berusaha untuk memadamkan gerakan kaum riddah. Dengan sikap Kholifah Abu Bakar membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan Al-liwa,(panji pasukan) kepada masing-masing pasukan. Untuk menumpas hal tersebut Ia membentuk sebelas pasukan masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh seperti Khalid bin Walid,Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Surabil bin Basanah. Dalam waktu singkat. Seluruh kekacauan dan pemberontakan. yang terjadi dalam Negeri dapat ditumpas dengan sukses.
5. Usaha Abu Bakar dalam Mengembangkan Dakwah
Kemajuan yang telah di capai pada masa pemerintahan Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun di dalam pengembangan Islam antara lain:
1. Perbaikan social (masyarakat)
2. Perluasan dan pengembangan wilayah islam
3. Mengumpulkan ayat-ayat Al-qur’an
4. Sebagai Kepala Negara dan pemimpin umat Islam
5. Meningkatkan kesejahteraan ummat
Perbaikan sosuial yang dilakukan Abu Bakar ialah usaha untuk menciptakan stabilitas wilayah slam dengan berasilnya mengamankan Tanah Arab dari para penyelewengan (orang-orang murtad, Nabi-nabi palsu dan orang-orang yng enggan membayar zakat).
Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah luar jazirah Arab. Daera yang dituju adalah iraq dan Syria yamg berbatasan langsung dengan wilayah kekuasan islam.
Sedangkan usaha yang ditempuh untuk pengumpulan ayat-ayat Al-qur’an adalah atas usulan dari sahabat Umar bin Khattab yang merasa kekawatiran kehilangan Al-qur’an setelah sahabat yang hafal Al-qur’an banyak gugur dalam peperangan, terutama waktu memerangai para Nabi palsu.
Alasan lain karena ayat-ayat Al Qur’an banyak berserakan yang tulis pada daun kurma, kulit kayu, dan lain sebagainya. Hal ini di khawatirkan mudah rusak dan hilang.
Kemamapuan yang di embank sebagai kepala Negara dan pemimpin
Umat slam, Abu Bakar sensantiasa meneladani perilaku Rasulullah SAW bahkan perinsip musyawarah dalam pengambilan keputusanseperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Selalu dalam perakteknya. Ia sangat memeperhatkan kepentingan keadaan rakyatnya dan tdak segan-segan membantu mereka yang kesulitan. Sahabat yang telah menduduki jabatan pada masa Nabi Muhammad SAW, tetap di biarkajn pada jabatanya, sedangkan sahabat lainya yang belum mendapatkan jabatan dalam pemerintahan juga di angkat berdasarkan kemampuan dan keteramfilan yang dimiliki.
Sedangkan kemajuan yang dicapai untuk meningkatkan kesejateraan ummat, Abu Bakar membantu lembaga “Baitul Mal” semacam kas Negara atau lembaga keuangan. Pengolahannya diserahkan ada Abu Ubaidah dan sahabat Nabi SAW yang di gelari “Amin Al- Ummah” (Kepercayaan Ummat).Selan itu didirikan lembaga peradilan yang diketuai oleh Umar bin Khattab.
Kebijaksanaan lain yang ditempuh Abu Bakar membagi sama rata hasil tampasan perang (ghanimah). Dalam hal ini ia berbeda pendapat dengan Umar yang menginginkan pembagian dilakukan atas dasar jasa tiap-tiap sahabat. Alasan yang dikemukkan Abu Bakar adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam adalah akan mendapat balasa pahala dari Allah SWT diakirat.
Persoalan besar yang sempat di selesakan Abu Bakar sebelum wafat adalah menetapkan calon Khalifah yang akan mengantikannya. Dengan demikian Ia telah mempersempit peluang bagi timbulnya pertikaian di antara ummat Islam mengena jabatan Khalifah. Dalam menetapkan calon penggantinya, Abu Bakar tidak memilh anak atau kerabat yang terdekat, melankan m,emiolih oramngt lain yang secara obyektif di nilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai Khalifah. Yaitu sahabat Umar bin Khattab. Pilihan tersebut tidak d putuskan sendiri, tetapi di musyawarahkanya terlebih dahuklu dengan para sahabat besar. Setelah di sepakati barulah Ia mengumumkan calon Khalifah itu.
Abu Bakar dengan masa pemerintahannya yang amat singkat kira-kira dua tahun, telah berhasil mengatasi tantangan dalam negeri Madinah yang baru tumbuh, dan juga menyiapkan jalan bagi perkembangan dan perluasan Islam di Semenanjung Arab.
6. Sistem Hukum dan Khazanah Keagamaan Pada Masa Abu Bakar
Pada masa Abu Bakar, sistem hukum dalam masyarakat ketika itu berlaku untuk setiap individu, baik ia kaya maupun miskin, laki-laki maupun wanita, kecil maupun besar. Karena keadilan itulah yang harus di wujudkan dalam masyarakat ideal. Dan hokum Islam atau syariat Islam di posisikan atas kekuasaan masyarakat islam ideal.
Pengembangan sistem hukum pada masa itu di lakukan dengan bentuk ijtihad para sahabat apabila menjumpai permasalahan yang berkembang dan tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Karena para sahabat memilki otoritas untuk melakukan ijtihad, baik itu dilakukan secara personal maupubn kesepakatan bersama (Ijma’us sahabat) yang dijadikan hukum nomot tiga setelah Al-qur’an dan sunnah Rasullah SAW.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Followers